Rumah Sakit dan Puskesmas

Sekitar lima salah satunya punya Indonesia, sesaat bekasnya milik perusahaan global. Satelit asing itu disewa kemampuannya oleh Tubuh Aksesibilitas Telekomunikasi serta Info (BAKTI) Kominfo.

Kementerian merencanakan mengeluarkan satelit multifungsi yang disebutkan Satria I serta ditarget bekerja pada 2023. “Keinginannya, ini dapat diletakkan di orbit pada kuartal III 2023,” tutur Johnny.

Satelit itu untuk penuhi keperluan internet di 150 ribu titik service publik. Dengan cara detil, 93.900 adalah sekolah/pesantren, 47.900 kantor desa/kelurahan/pemerintahan wilayah, 3.700 sarana kesehatan, serta 4.500 yang lain.

Johnny pernah menjelaskan, High Throughput Satellite (HTS) Satria memiliki 150 giga byte per detik (Gbps). Besarannya seputar 3x lipat dari keseluruhan kemampuan sembilan satelit yang ada sekarang ini.

Ke-5 satelit itu memiliki seputar 30 Gbps. Sedangan empat satelit asing mempunyai kemampuan 20 Gbps.

Pembuatan project Satria juga pernah terhalang tatap muka dengan investor karena epidemi corona. Tetapi, pembangunan ground segment project satelit tetap diawali pada 2022. Sedang peluncuran, peletakan, serta komersilisasi direncanakan 2023.

Direktur Penting BAKTI Kominfo Anang Latif menjelaskan, 90% infrastruktur digital berbasiskan tehnologi satelit. Ini berefek pada tingginya ongkos operasional. “Kami cari tehnologi paling baik sampai mempersiapkan satelit Satria I,” tuturnya.

Infrastruktur itu diinginkan percepat pengadaan koneksi internet ke semua sarana kesehatan di Tanah Air.

Rumah sakit ini membuat skema info serta basis komunikasi spesial berkaitan Covid-19.

“Karena usaha tenaga kesehatan serta implikasi tehnologi baru, tidak ada staf yang terkena. Disamping itu, tidak ada analisis yang lewatkan atau pasien yang wafat,” demikian diambil dari buku petunjuk itu, Maret lantas (28/3).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *